"C U soon", terketik pada sebuah telepon seluler berchasing merah dan mungkin akan dikirim pada seseorang.
Hal yang sedikit mengganjal adalah tulisan yang ada pada telepon seluler tersebut. Walau pun mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal itu, namun sepertinya cukup menarik untuk dibahas.
Berkaitan dengan sastra dan teknologi informasi, hal itu mungkin cukup "bermasalah".
Dalam sastra, penyingkatan kata tidak boleh sembarangan. Seperti pada contoh di atas "C U soon". Tidak mungkin ada dalam kamus kata "C" atau "U". Dua kata tersebut adalah sebagai huruf.
Namun dalam perkembangan teknologi, hal itu sah-sah saja.
Telepon seluler tentu mempunyai sebuah jaringan operator untuk menjalankannya. Jaringan operator tentu akan mengenakan tarif tertentu untuk layanan tertentu. Untuk layanan yang dicontohkan itu adalah layanan SMS atau Short Message Service. Khusus untuk layanan SMS ini, operator tentu memasang tarif yang demikian murah namun tetap diperhitungkan keberadaannya.
Misalnya operator memasang tarif sekian rupiah untuk 1 karakter atau sekian rupiah untuk 1 kali SMS yang setara dengan 160 karakter. Maka pengguna akan menyingkat pemakaian karakter agar bisa lebih banyak mengungkapkan apa yang akan dikirimkan pada penerima pesan tersebut.
Demikian juga dengan contoh. Apabila dalam sastra, "See you soon" memakai 12 karakter, maka dalam SMS boleh diganti menjadi "C U soon" yang hanya memakai 8 karakter. Bisa lebih hemat 4 karakter untuk kata-kata lain yang bisa dikirimkan.
Kesimpulannya, sastra dalam SMS yang dalam hal ini juga termasuk teknologi informasi, tidak mempermasalahkan hal yang akan dilakukan pada penggunaannya. Toh, cara membacanya juga tetap "see you soon" kan? Yang penting kita sebagai pengguna sastra dan teknologi informasi, tahu betul apa yang kita lakukan itu adalah beralasan dan tindakan yang positif serta bukan untuk tindakan yang negatif.

Hal yang sedikit mengganjal adalah tulisan yang ada pada telepon seluler tersebut. Walau pun mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal itu, namun sepertinya cukup menarik untuk dibahas.

Berkaitan dengan sastra dan teknologi informasi, hal itu mungkin cukup "bermasalah".
Dalam sastra, penyingkatan kata tidak boleh sembarangan. Seperti pada contoh di atas "C U soon". Tidak mungkin ada dalam kamus kata "C" atau "U". Dua kata tersebut adalah sebagai huruf.

Namun dalam perkembangan teknologi, hal itu sah-sah saja.
Telepon seluler tentu mempunyai sebuah jaringan operator untuk menjalankannya. Jaringan operator tentu akan mengenakan tarif tertentu untuk layanan tertentu. Untuk layanan yang dicontohkan itu adalah layanan SMS atau Short Message Service. Khusus untuk layanan SMS ini, operator tentu memasang tarif yang demikian murah namun tetap diperhitungkan keberadaannya.
Misalnya operator memasang tarif sekian rupiah untuk 1 karakter atau sekian rupiah untuk 1 kali SMS yang setara dengan 160 karakter. Maka pengguna akan menyingkat pemakaian karakter agar bisa lebih banyak mengungkapkan apa yang akan dikirimkan pada penerima pesan tersebut.
Demikian juga dengan contoh. Apabila dalam sastra, "See you soon" memakai 12 karakter, maka dalam SMS boleh diganti menjadi "C U soon" yang hanya memakai 8 karakter. Bisa lebih hemat 4 karakter untuk kata-kata lain yang bisa dikirimkan.
Kesimpulannya, sastra dalam SMS yang dalam hal ini juga termasuk teknologi informasi, tidak mempermasalahkan hal yang akan dilakukan pada penggunaannya. Toh, cara membacanya juga tetap "see you soon" kan? Yang penting kita sebagai pengguna sastra dan teknologi informasi, tahu betul apa yang kita lakukan itu adalah beralasan dan tindakan yang positif serta bukan untuk tindakan yang negatif.


0 komentar:
Posting Komentar